“Segelintir Rasa Saat Mengais dalam Sekam”

Ku cari engkau perlahan, antara onggokan sekam

Yang terhampar di atas mehligai kengkuhan

Butiran lelah mengaliri raga

Tapi jiwa ini masih dengan pongahnya

Berbicara, untuk satu dari seribu.

 


Maafkan, jika berserakan…

Ku tahu puing-puingmu dulu yang mulai terbenahi

Ingin kau tata rapi, biar bathinmu mapan

Kaffah dengan sgala istiqomahnya

Tapi biarkan nafasku berbaur di sela

 


Aku, terlalu sering mendongak..

Congkak !!! namun,

Tiadakah semilir angin cinta mendesir

Di balik kegalauan panjangmu

Akan hakikinya rasa bagi jiwa yang meraba??


Bukan jawabmu ku tunggu, untuk seonggok sekam yang ku kais

Tiada pula niat buat langkahmu goyah..

Diam ini, hanyalah makna dari sejuta rasa ..

2 Responses to ““Segelintir Rasa Saat Mengais dalam Sekam””

  1. Fian Says:

    puisi ade bgus bnget and u kapan2 tampilin ke majalah atau koran harian atau u buat buku kumpulan puisi2 oke…

  2. Fian Says:

    puisi ade bgus bnget and u kapan2 tampilin ke majalah atau koran harian atau u buat buku kumpulan puisi2 oke…

    sgala sesuatu yg penuh makna dan arti senantiasa membuat jiwa kita bersorak riang. dan apabila semuanya itu tidak diolah maka hati manusia kan hampa selamanya tetapi segala yang penuh makna dan arti kan lebih baik apabila kita mencari makna dan arti hidup sebenarnya…….

Leave a Reply