Archive for January, 2006

MEMAKNAI TULISAN

Friday, January 27th, 2006

Tercipta lagi seonggok torehan

Bukan untuk siapa-siapa

Tiada juga melukiskan kisah

Hanya sebagai penghias jiwa

Yang melambangkan

Refleksi kecintaan

Atas sebait tulisan

-ndy210106-

Untukmu Hanya Senyum, Bukan Kata

Friday, January 27th, 2006

Ku ulurkan perisaiku hingga membentengi seluruh

Biar tiada benalu mengganggu

Setiap yang lewat ku tampik dengan

Keganasan senyum yang terkulum

Karna kata adalah gagu

Dan terus saja begitu hingga puncaknya bisu

Sambil mengungkung senyum

Yang memaknai sejuta arti

Mengalahkan bulir-bulir kata yang tak sempat bicara

Hmmmmh…

Senyum ini tetap di tahtanya

Tiada kata, apalagi cerita

Wahai saudara !!!

Masihkah ada berlian hati yang terbingkis

Bagi senyum tulus

Sebagai hadiah untuk sebuah persembahan ikhlas?

-ndy210106-

“9uNd4HkU”

Wednesday, January 18th, 2006

TOLONG JAWAB GUNDAHKU !!!

KATAKAN BAHWA KAU YANG MEMBUKA PINTU

DAN BELUM SEMPAT KAU LIRIK

APA DI BALIK PINTU,

TLAH KAU SEGERAKAN

PINTU TERTUTUP RAPAT KEMBALI.

KARNANYA

KU TAK PAHAM APA INGINMU

APA MAUMU

UCHHHH…

MAAFKAN AKU SAUDARA!!!

AKU HANYA PEREMPUAN

YANG MENCINTAI PERTEMANAN

DENGAN SEGALA INDAH DAN SUSAHNYA.

SILAKAN PERGI KARNA KAU YANG DATANG.

JANGAN KAU USIR AKU

DARI SEGALA KECINTAAN

DAN KESENANGANKU

DI TAHTA KERAJAAN HATIKU SENDIRI.

TRIMA KASIH TLAH MENGAJARIKU

ARTI LEBIH DARI PENGHARGAAN

ATAS NILAI PERTEMANAN.

Bersama gundah,

        -ndy-

Ufffhhhh….

Tuesday, January 10th, 2006

Ku kembali
Menghisap cerutu
Masa lalu
Pelan..
Kemudian
Ku hembus
!!
Asap kelam
Mengepul
Dan
Di ruang
Membentuk
Segumpal kelabu

9 Dzulhijjah 1426 H

Monday, January 9th, 2006

Malam
ini, malam Idul Adha kesekian yg ku jalani sendiri. Bukan untuk menyendiri, tp
kondisilah yang membawaku ke suatu masa yang menuntutku untuk menikmati
takbiran idil qurban tanpa keluarga, sanak saudara… hanya teman merangkap karib
sekaligus juga sahabat jiwaku yang terjunkan diri untuk menemani kegundahanku.
Bukan tak mau aku merambahi malam ini untuk keluarga tercinta. Tapi jejak kaki
ini di pijakan yang menahanku untuk melangkah menuju pelukan keluarga, dan
dekapan mereka adalah mimpi terindahku di malam panjang yang menidurkanku lewat
desis air mata.

 

Sepenggal
kisah juga telah meniti di jembatan hatiku. Kisah yang bagiku adalah cerita
dongeng sehari. Di kala pagi menjelang, sangat hangat dengan surya yang menusuk
pelupuk kalbu, kehangatan yang sangat dinanti setiap relung karna itulah indah
dunia, tentram pula… diiringi kicau yang membahana, beserta sajak pagi yang
syahdu. Sungguh keindahan seni di sana !!! Beranjak
siang, mulai gerah nurani ini. Bukan tak suka. Aku hanya ungkapkan rasa, untuk
sekedar kau tahu.. agar kau paham apa yg ada di benak nurani dan perasaan…
wajar jika kau tak sepaham denganku. Beda itu lumrah, sayang !!! –aku
memanggilmu sayang karna kau pun begitu mengumbar sayang padaku- Kulanjutkan
siang ku masih bersamamu. Padahal ku tau kau pun mencari damai, padahal aku
ribut !!! kau cari sejuk padahal diriku adalah hiruk pikuk. Siang kini berganti
sore… menuju senja sudah.. kian meredup cahya surya, seredup hatimu yang dulu
kobar sedemikiannya. Buatku kagum dengan dirimu apa adanya -hingga kini juga
masih begitu- Tapi kau suguhkanku cerca, kau maki aku dengan syairmu yang dulu
ku agungkan di setiap lingkunganku dimana ku berdiri dan masih terekam apik,
mendapat tempat disudut hatiku hingga ku berjuang untuk tahtakannya senantiasa.
Senja ini… nyaliku tetap ku rangkumkan untuk kembali menatapmu. Padahal aku
sebenarnya sudah malu memamerkan keakuanku padamu. Bukan apa dan mengapa, lirih
ini kau kira teriak. Tawa ini bagimu mantra bid’ah… Semua itulah yang
membungkam ruhku untuk menjalin terus rajutan yg kubingkai indah ini.
Bingkainya kuagungkan sebagai persahabatan untuk jiwa. Tapi… akankah kukuh?????
Malam tlah menjelang !!!! Aku tetap ingin nikmati gundah malam ini dengan
kisah-kisahmu yang kau lantunkan penuh damai. Dapatkah??? Ku merugi jika tak
kau kirimi tulisan hidupmu. Ku merintih saat ku kehilangan sosokmu, sahabat jiwaku..

 

Entah
di mana kau kini menyusuri malam idul qurban mu.. padahal aku rindu semangatmu
yang menyemangatiku. Ku harap, besok setelah salat ied akan kudapati diriku
dalam keikhlasan sebagaimana esensi idul qurban.. Aku sadar, ilmu ikhlaS itu
mahal !!! Dan aku banyak belajar darimu, sahabat
jiwaku