Kisah Pujangga Malam
Tuesday, November 29th, 2005Berjalan
menelusuri senja. Meniti jembatan keremajaan yang hampir sirna. Jelajah cinta
yang sarat puitis, seperti puisi karya pujangga malam yang bersahaja dibuai
larutnya. Berharap ada labuhan hati yang membingkiskan kehangatan, walau hanya
dengan secangkir kopi pahit.. tetap akan terasa manis dengan menatap kesejukan cinta
dan perhatian yang tersuguh, yang menitipkan agungnya makna mendalam.
Pujangga
malam masih tetap bergelut dengan untaian kata-kata yang terajut penuh ruh. Padahal
malam betul-betul telah menyelinap bersama keheningannya. Sementara tarikan
pena telah sampai lembaran kesekiannya.. tak juga bergeming sang pujangga. Untuk
henyakkan serangga sekalipun, tiada dilakukannya. Hanya puisi tanpa tajuk yang
hanyutkan malamnya. Hingga malam tiba di sepertiga akhirnya dan kantuk telah
menyeruak, sang pujangga malam pun terlelap di tahtanya, sesaat sebelum
puisinya dirampungkan.
Surya
telah menyunggingkan senyumnya di balik kisi-kisi jendela kamar sang pujangga. Hingga
mengusik lelapnya, terbangun, mengusap wajah bantalnya dan segera berlari
tinggalkan predikatnya sebagai pujangga malam, karena hari telah siang.
Sejalan
dengan garangnya siang, pujangga kembali menebar cinta pada dunianya. Dunia yang
memberinya nama, arti, dan realita. Bukan mimpi seperti yang ia dapatkan di kala
malam menjemputkannya mimpi. Tetap dengan kepuitisannya, ia berjalan sembari
menelaah makna hidupnya, dan tertegun saat ada yang mengirimkannya lembaran
cerita puitis. Hingga sang pujangga sadar.. AKU BUKAN SATU-SATUNYA. Maka dititipkannya
sepenggal resah, Puisi adalah makna dari kata hati.
Inspired
by my inspirator,
-ndy-